Kamis, 11 Agustus 2011

Azimat Pelaris Dagangan

rajah pelarisan
Wafaq (wifiq) untuk melariskan dagangan
Artikel ini untuk menjawab pertanyaan sdr Ali pada tulisan “Ilmu Menulis Rajah”. Mengapa wafaq yang kita tulis seperti gambar diatas tidak terasa khasiat atau fungsinya?
Namun sebelum menjelaskan jawabannya, saya mohon maaf, bila tidak berkenan untuk mengkoreksi semua gambar wafaq yang anda kirim ke email kami. Karena ini sebenarnya adalah tanggung jawab penulis/penyusun buku Mujarobat Wafaq itu. Jadi lebih tepat bila anda menemui kendala, langsung saja berkonsultasi dengan penulis buku Mujarobat tersebut.
Disini akan saya jelaskan salah satu saja dari sekian wafaq yang anda dikirim, dan itupun saya jelaskan secara sekilas saja, yang tampak jelas dari melihat gambar wafaq diatas. Selebihnya bila anda memang berniat ingin bisa menulis wafaq dan azimat, silahkan berguru langsung kepada sesepuh ahli wafaq dan Rajah.
Untuk menjawab pertanyaan diatas tadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah selidiki dahulu kebenaran dari isi tulisan Wafaq yang akan ditulis. Kedua, evaluasi tatacara (kaidah) saat menulis wafaq, Apakah sudah sesuai dengan kaidah menulis wafaq atau belum? Ketiga, evaluasi kemampuan spiritual kita, bisa atau tidak menjalin energi ghaib?
Bila 3 hal tersebut telah dilakukan dengan sempurna, maka InsyaAllah Wafaq yang ditulis pasti akan memancarkan energi ghaib dan berkhasiat sesuai dengan fungsinya. Nah, mari kita mulai koreksi isi dari wafaq diatas.
Langkah pertama, Memastikan kebenaran isi tulisan Wafaq.
Jika wafaq yang akan ditulis disalin dari sebuah buku atau kitab, maka ada baiknya cermati dahulu kebenaran tulisannya. Karena tidak menutup kemungkinan tulisan wafaq pada buku tersebut sudah tidak sesuai dengan aslinya. Apalagi bila wafaq tersebut didapat dari buku-buku mujarobat yang dijual dipasaran. Kemungkinan terjadi salah cetak, tulisan tidak jelas, terdapat huruf yang hilang dan sebab lain yang membuat suatu tulisan wafaq sudah tidak sesuai dengan aslinya. Atau bahkan memang disengaja dibuat keliru oleh penulisnya dengan maksud agar wafaq tersebut tidak disalahgunakan oleh sembarang orang. Pada akhirnya bila tulisan wafaq tidak sempurna maka wafaq tidak bisa berfungsi sesuai yang diharapkan.
Nah, sebelum menulis wafaq kita harus tahu terlebih dahulu pengertian wafaq. Secara singkat, “Wafaq” bermakna selaras, serasi dan sistematis. Jadi tulisan wafaq adalah tulisan yang berupa huruf, angka, simbol yang membentuk pola yang sistematis dan serasi. Yang diyakini akan membentuk pola energi yang dapat difungsikan sesuai dengan niat sang pembuat wafaq. Jadi menulis wafaq tidaklah sembarang menulis, mempunyai kaidah tertentu, setiap tulisan / huruf satu dengan yang lainnya harus serasi. Dari gambar wafaq diatas, terdapat ketidak serasian. Misalnya pada tabel persegi 3×3 ini :

Angka-angka dalam tabel persegi 3×3 tersebut tidak serasi, itu artinya wafaq ini terdapat kekeliruan. Untuk diketahui bahwa angka-angka dalam kotak persegi 3×3 tersebut merupakan angka dari hisab Abjadiyah Asma: “ALLAH”. Yang jumlahnya adalah 66. Untuk mengetahui bagaimana mendapatkan nilai angka 66 ini anda bisa mempelajari di Kajian Ilmu Gaib tentang “ILMU HURUF” yang telah pernah saya tulis.
Keserasian dari wafaq adalah bila angka-angka dalam kotak persegi wafaq saling dijumlahkan secara vertikal, horisontal dan diagonal maka akan menghasilkan jumlah yang sama (dijumlahkan kebawah, kesamping ataupun miring, semua jumlahnya sama). Dalam wafaq ini seharusnya jumlah hisab dari Asma ”ALLAH” adalah 66. Sedangkan pada gambar wafaq diatas, tidak demikian adanya. Maka wafaq ini keliru.
Simak koreksi ketidak serasian wafaq persegi 3×3 tersebut pada gambar dibawah ini:
wafaq tidak seralas
Seharusnya wafaq persegi 3×3 dari asma “ALLAH” yang benar adalah :
wafaq yang selaras
Kemudian koreksi yang selanjutnya terdapat pada huruf-huruf dibawah kotak persegi 3×3 tersebut, yaitu:
huruf Ali Imran 37
Huruf-huruf tersebut adalah potongan dari Al Quran Surat Ali Imran ayat 37 yang sengaja ditulis dengan cara taqti’ (diputus-putus per hurufnya). Kemudian diakhiri dengan tulisan Shalawat Nabi Muhammad SAW. Untuk koreksi dari rajah huruf tersebut simak gambar saya ini. Klik 2x untuk memperbesar gambar.
Huruf QS Ali Imran 37
  • Huruf-huruf pada baris 1 (berwarna biru) adalah huruf yang saya salin dari gambar wafaq diatas.
  • Huruf-Huruf pada baris 2 (berwarna hitam) adalah huruf yang sesuai dengan sumber dari ayat 37 Surat Ali Imran.
  • Baris 3, adalah lafal tulisan aslinya, yaitu dari ayat 37 Surat Ali imran.
  • Lingkaran merah menunjukan huruf yang salah atau hilang (tidak ditulis).
Dan berikut ini koreksi tulisan Shalawat nabi Muhammad SAW lanjutan dari huruf-huruf tadi.
Huruf Shalawat Nabi
Jadi wajar bila wafaq yang ditulis seperti gambar diatas tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Karena memang wafaq tersebut ternyata tidak sempurna alias sudah tidak sesuai aslinya lagi.
Jika isi tulisan wafaq telah benar, kemudian langkah selanjutnya adalah menulis Wafaq dengan benar sesuai dengan kaidah penulisan wafaq. Antara lain sebagai berikut:
Bila kita biasanya menulis dari kiri kekanan, maka tidak demikian dengan cara menulis wafaq. Wafaq ditulis dari kanan ke kiri. Dan berputar searah jarum jam.
Khusus untuk membuat kotak persegi 3×3 atau 4×4 dan seterusnya, memakai kaidah keselarasan. Jadi angka-angka dalam kotak persegi tersebut tidak ditulis dari kanan ke kiri atau sebaliknya, bukan juga dari atas kebawah atau sebaliknya, tetapi angka-angka tersebut dimasukan dalam kotak secara urut sesuai dengan pola sistematis wafaq persegi. Urutan penulisan angka-angka tersebut yaitu :
urutan memasukan angka
Jika kita jumlahkan secara horisontal (kesamping), vertikal (atas-bawah), diagonal (miring) maka hasilnya akan sama (selaras). Jadi penulisan angka-angka yang ada didalam persegi 3×3 itu, harus selalu berurutan penulisannya, dimulai dari kotak ke-1, ke-2, ke-3 dan seterusnya. Jika ditulis secara sembarangan maka energi ruhani wafaq tersebut tidak akan selaras, akibatnya azimat dari wafaq ini menjadi tidak sempurna. Bahkan bisa berefek negatif terhadap orang yang membawa wafaq tersebut, misalnya mudah pusing, sakit-sakitan, susah konsentrasi, mudah emosi atau efek negatif lainnya akibat ketidak selarasan energi yang ada pada dirinya.
Apa yang saya jelaskan disini hanya sekilas saja. Untuk tahap lanjut, wafaq tidak hanya berbentuk persegi 3×3 saja, bisa 4×4, 6×6 dan seterusnya. Dan tentu memiliki kaidah Khusus dalam penulisannya agar wafaq tersebut menjadi sempurna (selaras).
Setelah mengerti Kaidah-kaidah dalam menulis wafaq, langkah selanjutnya adalah kemampuan menjalin energi gaib. Agar azimat yang kita buat bisa berdayaguna atau berfungsi sesuai dengan yang kita harapkan. Jalinan energi gaib seperti sebuah jalinan antara ibu dan anak atau seperti seorang Empu dengan keris pusaka buatannya. Seorang ahli rajah disadari atau tidak pasti melakukan hal ini. Antara lain dengan cara membaca doa, wirid, mantera, tirakat puasa, visualiasasi (daya cipta), meditasi atau bentuk ritual lainnya.
Demikianlah jawaban koreksi dari wafaq ini. Apa yang saya sampaikan ini tidak mengada-ada. Tapi memang beginilah ILMU WAFAQ yang dipakai oleh para ulama ahli hikmah dan wafaq. Kepada para sesepuh, mohon koreksinya apabila terdapat kesalahan didalam penjelasan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar